Pendudukan jepang di Indonesia

Latar belakang pendudukan Jepang di Indonesia

Perang Dunia II (World War II) terjadi di dua benua. Di Eropa, Nazi Jerman melawan pasukan Sekutu. Di Asia, Jepang melawan Sekutu. Jerman dan Jepang berpaham fasisme ingin menguasai negara-negara di dunia.

Perang Dunia II di Asia dikenal dengan Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya. Jepang berusaha membangun imperium di Asia.

Perang Dunia II di Asia dimulai pada 8 Desember 1941 saat tentara Jepang (Dai Nippon) mendadak menyerang Pearl Harbor di Hawaii, pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat terbesar di Pasifik.

Pasukan Jepang dipimpin Laksamana Yamamoto bergerak sangat cepat menuju selatan termasuk ke Indonesia. Setelah Jepang menyerang Pearl Harbor, Gubernur Henderal Hindia Belanda, Alidius Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer mengumumkan perang dengan Jepang.

Tindakan Jepang di Indonesia selama pendudukan

Pembentukan  organisasi sosial. 
Untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya melawan Barat, Jepang mengerahkan segala kemampuan dan persediaan dari wilayah yang dijajahnya, salah satunya Tanah Air.

Jepang membentuk sejumlah organisasi sosial kemasyarakatan yang punya tugas berbeda-beda. Ada enam organisasi yang cukup besar anggotanya kala itu. Organisasi sosial kemasyarakat bentukan Jepang di antaranya:

Gerakan Tiga A
Putera
Fujinkai
Jawa Hokokai
MIAI
Masyumi
Di masa penjajahan Hindia Belanda, organisasi sosial diprakarsai para tokoh pergerakan nasional. Namun di era pendudukan Jepang, organisasi dibentuk serta dikendalikan Jepang.

Kendati demikian, para tokoh pergerakan seperti Soekarno dan Mohammad Hatta mau bekerja sama dengan Jepang. Mereka yakin sikap kooperatif adalah langkah terbaik ketika perang.

Pembentukan organisasi militer

Organisasi Militer Bentukan Jepang
Heiho
Heiho dikenal sebagai pasukan pembantu yang beranggotakan prajurit asal Indonesia yang ditempatkan langsung dalam perang Jepang. Syarat menjadi Heiho yaitu berusia 18-25 tahun, memiliki badan sehat, kelakuan baik dan memiliki pendidikan minimal sekolah dasar. Heiho terdiri dari pasukan Laut, Darat dan Kempetai (Polisi).

Tujuan didirikannya Heiho adalah untuk membantu Jepang dengan membangun kubu pertahanan, menjaga keamanan dan ikut dalam medan perang Jepang. Organisasi ini lebih terlatih daripada organisasi militer maupun semi militer lain bentukan Jepang. Jumlah Heiho mencapai 42.000 anggota. Pasca merdekanya Indonesia, Heiho dibubarkan pada tahun 1945 dan dilebur menjadi BKR.

PETA (Pembela Tanah Air)
PETA didirikan pada tanggal 3 Oktober 1943 dengan dasar maklumat Osamu Seirei No 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara ke 16, Letnan Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela. Pelatihan PETA dipusatkan di kompleks militer Bogor dengan nama Jawa Bo-ei Giyugun Kanbu Resentai. Tugas PETA adalah sebagai pasukan gerilya yang membantu Jepang apabila sewaktu – waktu terjadi serangan dan menjadi korps keamanan mempertahankan tanah air. Terdapat kepangkatan di PETA yaitu :

Daidanco (komandan batalion)
Cudanco (komandan kompi)
Shodanco (komandan pleton)
Bundanco (komandan regu)
Giyuhei (prajurit sukarela)

Organisasi Semi Militer
Pembentukan organisasi militer bertujuan untuk membentuk korps cadangan sebagai pendukung organisasi militer yang telah didirikan. Berikut adalah organisasi militer yang didirikan oleh Jepang.

Seinendan
Seinendan didirikan dengan tujuan untuk mendidik dan melatih pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri. Sebenarnya tujuan utama dari Seinendan adalah untuk mendapatkan tenaga cadangan sebanyak – banyaknya untuk menuju kemenangan perang Jepang. Korps Seinendan beranggotakan para pemuda dengan usia 15-25 tahun. Namun ketika Perang Asia Timur Raya mencapai puncaknya terjadi perubahan usia yaitu 14-22 tahun. Jumlah Seinendan pun berkembang dari 3.500 menjadi 500.000 pada masa akhir pendudukan Jepang.

Keibodan
Pembentukan Keibodan bersamaan dengan pembentukan Seinendan. Berbeda dengan Seinendan, Keibodan berdiri tanpa ada kaitannya dengan golongan nasionalis. Keibodan berada langsung di bawah pengawasan polisi Jepang. Keibodan difungsikan sebagai korps pembantu kepolisian. Anggota Keibodan berusia 23-25 tahun dengan syarat utama yaitu sehat secara fisik dan memiliki kepribadian baik. Selain di Jawa, Keibodan dan Seinendan juga dibentuk di Sumatera dan daerah – daerah lain dibawah kekuasaan angkatan laut. Di Sumatera, Keibodan disebut sebagai Bogodan. Di Kalimantan terdapat badan serupa yang dinamakan Konan Hokokudan.

Fujinkai
Fujinkai merupakan korps pelatihan militer bagi wanita dengan usia minimum 15 tahun. Tenaga wanita dengan usia 15 tahun dimaksudkan sebagai garis belakang untuk membantu dan merawat korban perang. Selain sebagai korps bantuan perang, fujinkai juga difungsikan sebagai tenaga penanam pohon jarak untuk diambil minyaknya.

Eksploitasi sumber daya alam

Kebijakan Jepang Yang Mengeksploitasi SDA & SDM Indonesia
Berbagai bentuk cara pemerintah bala tentara Jepang untuk menarik simpati bangsa Indonesia pada masa awal kedatangannya di Indonesia, cukup mendapat sambutan yang baik dari bangsa Indonesia, apalagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa sangat percaya pada “Jongko Joyoboyo” (Ramalan Joyoboyo) yang menyebutkan akan datangnya “Jago wiring kuning cebol kepalang soko wetan” yang akan berkuasa di Jawa seumur jagung.
Namun kedatangan pasukan Jepang dengan segala propagandanya tersebut merupakan mimpi buruk bangsa Indonesia yang mengharapkan terbebas dari belenggu penjajahan.

Berbagai tindakan pemerintahan bala tentara Jepang sangat menyengsarakan bangsa Indonesia:
a. Pemerasan Sumber Daya Alam
Cara-cara Jepang untuk mengeruk kekayaan alam / bahan mentah guna kepentingan industri perang diantaranya :
1. semua harta peninggalan Belanda di Indonesia di sita
2. melakukan monopoli penjualan hasil perkebunan
3. melancarkan kampanye pengerahan barang-barang dan menambah bahan pangan secara besar besaran
4. tanaman perkebunan yang tidak berguna dimusnahkan dan diganti dengan tanaman pangan
5. rakyat hanya boleh memiliki 40 % dari hasil panen, sedangkan yang 60 % harus diserahkan kepada Jepang
6. rakyat dibebani tambahan untuk menanam pohon jarak sebagai bahan minyak pelumas senjata dan mesin perang.

b. Pemerasan Sumbar Daya Manusia
Untuk memanfaatkan tenaga bangsa Indonesia dalam membantu kepentingan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya, pemerintah bala tentara Jepang melaksanakan Romusha yaitu bentuk kerja paksa seperti halnya pada masa pemerintahan Hindia Belanda (Kerja Rodi) juga terjadi pada masa pendudukan bala tentara Jepang, yang disebut dengan Romusha. Para tenaga kerja paksa ini dipaksa sebagai tenaga pengangkut bahan tambang (batu bara) , pembuatan rel kereta api serta mengangkut hasil hasil perkebunan.Tidak terhitung berapa ratus ribu bahkan jutaan rakyat Indonesia yang menjadi korban romusha. Untuk menarik simpati bangsa Indonesia terhadap Romusha, Jepang menyebut romusha sebagai “Pahlawan Pekerja/Prajurit Ekonomi”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah-istilah media sosial